Jakarta Selatan, BERITAPAGIPAGI — Di tengah maraknya arus informasi yang kian liar dan tak terkendali, Rahmat Santoso, alumni SMA Negeri 9 Jakarta, melontarkan peringatan keras kepada kalangan pelajar agar tidak terjebak dalam pusaran provokasi yang berpotensi menyeret mereka ke jurang kekerasan dan kehancuran masa depan.
Sebagai figur penggerak pemuda di Jakarta Selatan, Rahmat menilai bahwa pelajar saat ini berada di titik rawan—di mana informasi yang beredar, khususnya di media sosial, tidak hanya membingungkan tetapi juga kerap dimanfaatkan untuk memicu konflik, tawuran, hingga perilaku menyimpang.
“Pelajar harus cerdas dan tidak mudah diperalat. Banyak ajakan yang tampak biasa, tetapi sebenarnya mengarah pada tindakan berbahaya. Jangan sampai masa depan hancur hanya karena ikut-ikutan,” tegasnya.
Ia secara khusus menyoroti fenomena tawuran pelajar yang masih terus berulang, seolah menjadi budaya laten yang sulit diputus. Menurutnya, tawuran bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi bentuk nyata kegagalan dalam mengendalikan emosi dan tekanan sosial.
“Stop tawuran pelajar. Hentikan anarkisme dalam bentuk apa pun. Dan yang tidak kalah penting, jauhi narkoba yang jelas-jelas merusak masa depan,” ujarnya dengan nada tegas.
Lebih jauh, Rahmat mengingatkan bahwa setiap tindakan yang diambil hari ini akan menentukan arah hidup di masa depan. Ia menilai, keterlibatan dalam kekerasan atau penyalahgunaan narkoba bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga mencoreng masa depan generasi muda secara kolektif.
Sebagai alternatif, ia mendorong pelajar untuk mengalihkan energi ke arah yang lebih produktif—mulai dari pendidikan, olahraga, hingga kegiatan kreatif yang mampu membangun karakter dan daya saing.
Imbauan ini menjadi alarm serius bagi pelajar di Jakarta Selatan: di tengah derasnya provokasi dan tekanan lingkungan, hanya mereka yang mampu berpikir jernih dan bertindak bijak yang akan bertahan dan melangkah maju. (*/ADR)





